ALKOHOL BURUK UNTUK KESEHATAN TULANG

Alkohol dapat memicu efek memabukkan terutama apabila dikonsumsi secara berlebihan. Fakta ini telah menjadi rahasia umum, bahwa terdapat begitu banyak dampak negative dari konsumsi alkohol yang berkepanjangan pada kesehatan tubuh. Hati atau liver seorang peminum alkohol adalah organ yang akan menerima dampak terberat saat alkohol masuk ke dalam tubuh.

Lebih parah lagi, membangun kebiasaan mengonsumsi minuman beralkohol ternyata dapat memperbesar resiko terkena osteoporosis atau pengeroposan tulang. Osteoporosis adalah kondisi berkurangnya kepadatan tulang. Hal ini menyebabkan tulang menjadi keropos dan mudah patah.

Osteoporosis bisa dialami oleh siapa saja, termasuk anak-anak dan orang dewasa. Namun, kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita yang telah memasuki masa menopause sebagai akibat dari berkurangnya kadar estrogen yang berperan penting dalam menjaga kepadatan tulang. Osteoporosis sering kali tidak menimbulkan gejala apa pun. Kondisi ini biasanya baru diketahui diketahui ketika penderitanya jatuh atau mengalami cedera yang menyebabkan patah tulang.

Kembali pada bahasan tentang resiko alkohol terhadap kesehatan tulang. Sains menemukan, seperti yang dilansir pada salah satu laman WebMD mengenai Peminum Berat dan Resiko Osteoporosis (WebMD adalah portal informasi kesehatan daring yang berbasis di Kota Atlanta, Amerika Serikat), bahwa ada kecenderungan besar atau resiko yang tinggi di antara para peminum alkohol berat (terutama saat masih remaja dan menginjak usia dewasa) untuk menderita osteoporosis di hari tuanya. Tidak aneh apabila para dokter kemudian menyarankan untuk mengurangi dosis alkohol untuk memperkecil resiko kerapuhan tulang, terutama bagi mereka yang kecanduan alkohol.

REAKSI ALKOHOL DAN KALSIUM PADA TUBUH

Kalsium berperan penting sebagai nutrisi yang dibutuhkan oleh sel-sel tulang sehat. Sementara alkohol adalah musuh utama yang terbukti memiliki banyak efek merugikan untuk proses penyerapan kalsium. Kondisi tulang semakin melemah akibat menurunnya porsi kalsium yang diserap oleh tulang dan akhirnya tubuh “mencuri” kalsium yang terdapat dalam tulang sebagai akibatnya.

Pada saat seseorang  mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan, yakni 2-3 ons (lebih dari 3-4 gelas sloki kecil) alkohol dalam sehari, tubuh akan kesulitan menyerap kalsium harian dengan efektif. Hal ini dikarenakan alkohol dapat memperberat kinerja dan fungsi hati dalam tubuh seseorang.

Alkohol dapat menghambat fungsi pankreas serta mengganggu proses penyerapan kalsium dan vitamin D. Alkohol juga berdampak buruk bagi hati atau liver. Hati memiliki peran yang krusial untuk mengaktifkan vitamin D non-esensial, yang kemudian berperan membantu tubuh dalam menyerap kalsium.

Hormon yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tulang juga dapat terganggu karena kandungan alcohol dalam darah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa alkohol menurunkan kadar estrogen dan mampu mengacaukan siklus menstruasi.

Ketika kadar estrogen menurun, pembelahan dan perubahan bentuk tulang akan terganggu sehingga berdampak pada keroposnya tulang. Bagi seorang wanita yang tengah berada pada usia menjelang menopause, pengeroposan atau pengurangan kepadatan tulang dapat mempercepat degenerasi tulang (tulang menjadi semakin lemah dengan cepat).

Selain menurunkan kadar hormone estrogen, dua hormon lain yang berpotensi merusak tulang, yaitu hormon kortisol dan paratiroid, justru terpicu sekresinya oleh alkohol. Tingkat kortisol yang tinggi pada orang yang doyan alkohol dapat menurunkan proses pembentukan tulang dan meningkatkan kerusakan tulang. Konsumsi atau ketergantungan alkohol yang kronis juga meningkatkan hormon paratiroid sehingga membuat kalsium pada tulang mudah terurai dan terbuang.

Berlebihan dalam mengasup alkohol juga akan menghabisi osteoblas, sel-sel yang berperan sebagai pembuat atau penyusun tulang. Masalah bagi penggemar minuman beralkohol akan semakin parah karena adanya kemungkinan defisiensi nutrisi. Lambat laun, keadaan ini akan menyebabkan neuropati perifer, yakni rusaknya atau terganggunya saraf di bagian tangan dan kaki.

ALKOHOL MEMPERPARAH KERUSAKAN PADA TULANG

Penyalahgunaan alkohol dapat memengaruhi keseimbangan yang akan meningkatkan risiko Anda terjatuh. Hal ini disebabkan karena terjadi pelebaran pembuluh darah di bagian otak saat tubuh mengongsumsi alcohol sehingga menimbulkan efek nyeri kepala sehingga dapat memicu perilaku agresif. Gangguan perilaku ini bisa terjadi akibat tidak stabilnya neurotransmiter, yaitu zat kimia yang bertugas mengantarkan pesan antar saraf.

Peminum alkohol berat juga terpapar resiko menderita fraktur (keretakan atau keadaan patah tulang) yang lebih tinggi akibat kondisi tulang yang rapuh dan terjadinya kerusakan saraf, terutama patah tulang pinggul dan tulang belakang. Fraktur karena kondisi ini umumnya membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama karena adanya kondisi kekurangan gizi.

Ketika orang tersebut berhenti minum minuman beralkohol, tulang bisa pulih dengan cepat. Beberapa penelitian menemukan bahwa kekuatan tulang yang hilang bisa dipulihkan setelah peminum memutuskan untuk berhenti total meminum alkohol. Terlebih jika peminum tersebut juga adalah seorang perokok, penting bagi individu tersebut untuk berhenti pula dari kebiasaan merokok.

Seorang peminum alkohol berat yang juga adalah perokok, akan memperburuk masalah tulang yang diderita. Sangat dianjurkan untuk menghentikan kedua kebiasaan itu sebelum seseorang menempuh langkah pengobatan untuk osteoporosis. Banyak penelitian menunjukkan bahwa berhenti merokok membantu seseorang sembuh dari ketergantungan alkohol.

MEMBATASI ATAU MENGHENTIKAN KONSUMSI ALKOHOL

Jika Anda terbiasa meminum alkohol, memang sulit untuk berkata tidak ketika Anda ditawari atau sedang berada di tengah teman-teman yang juga peminum alkohol. Meski demikian, demi tulang yang kuat, Anda harus berani menolak dan berkata tidak. Tidak kepada minuman beralkohol serta kepada rokok.

Dikatakan oleh Murray Dabby, direktur dari Atlanta Center for Social Therapy di Amerika Serikat, bahwa dia selalu meminta seseorang untuk memahami hubungan ketergantungan mereka terhadap alkohol. Untuk mengatasi rasa tidak nyaman tanpa alkohol, Murray menyarankan setiap orang untuk membangun penampilan atau image baru untuk diri sendiri. Mungkin dibutuhkan usaha lebih untuk dapat mengubah penampilan atau perilaku agar bisa keluar dari ketergantungan alkohol.

“Ini menjelaskan banyak hal tentang bagaimana Anda melihat diri sendiri. Biasanya, banyak orang yang mengungkapkan bahwa mereka canggung secara sosial, malu, cemas, atau merasa tidak nyaman. Alkohol membuatnya merasa nyaman,” ungkap Murray.

Yayasan Pendidikan Cipta Mulya Surabaya

Telp. : (031) 9954-3588

HP/WA. : 0817-7238-8889

Our Website

Author:
https://www.linkedin.com/in/joshua-jeffrey-kurniawan/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *