MENJAGA ASUPAN GIZI DAN NAFSU MAKAN LANSIA

Dengan bertambahnya umur seseorang, tubuhnya cenderung banyak berubah termasuk perubahan nafsu makannya. Umumnya seorang lansia cenderung kurang atau bahkan tidak memiliki nafsu makan, sehingga rentan terpapar anoreksia. Jika dibiarkan kondisi ini akan membuat berat badan lansia menurun. Lantas, bagaimana cara mengatur pola makannya? bagaimana panduan gizi lansia yang seharusnya?

NAFSU MAKAN LANSIA YANG CENDERUNG MENURUN

Berbagai hal mungkin menyebabkan hilangnya nafsu makan pada lansia. Hal tersebut acap kali berawal dari berbagai perubahan natural di dalam tubuh seiring dengan pertambahan usia. Perubahan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Penurunan kadar hormon tertentu yang langsung memengaruhi nafsu makan
  • Menurunnya kemampuan metabolisme dalam tubuh.
  • Saraf tidak sensitif, membuat lansia sulit mencium aroma dan merasakan rasa makanan.
  • Jumlah air liur berkurang, membuat makanan sulit dicerna.
  • Mengalami disfagia atau kondisi sulit menelan.
  • Berkurangnya jumlah asam lambung.
  • Gerakan peristaltik usus yang dilakukan untuk mencerna makanan semakin melambat.
  • Kemampuan menyerap zat gizi menurun.

Perubahan-perubahan tersebut akan memperkecil atau mengurangi nafsu makan para lansia. Karenanya diperlukan pengaturan makan yang tepat untuk mencegah penurunan berat badan yang drastis serta defisiensi gizi pada lansia.

KEBUTUHAN GIZI LANSIA

Karbohidrat

Zat gizi lansia yang tidak boleh terlewatkan pastinya karbohidrat. Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh. Kebutuhan karbohidrat untuk lansia berkisar antara 45-65 persen dari total kebutuhan energi harian.

Contohnya: nasi, roti, kentang, sagu, sereal, pasta, singkong, bihun, dan makanan pokok lainnya.

Protein

Protein sangat penting bagi tubuh, yakni sebagai pertumbuhan dan perkembangan setiap sel dalam tubuh. Protein juga penting untuk menjaga kekebalan tubuh lansia. Untuk lansia, kebutuhan protein sebesar 10-35 persen dari total kebutuhan energi.

Contohnya: daging, telur, ikan, sedangkan dari nabati bisa dari jenis kacang-kacangan.

Lemak

Lemak membantu untuk menyediakan energi jangka panjang, memberikan rasa kenyang setelah makan, membantu pembentukan hormon, membentuk membrane sel, mengangkut vitamin A,D, E, K ke seluruh tubuh.

Asupan lemak harus dibatasi sekitar 20-35 persen per hari, dengan batas asupan lemak yang jenuh setidaknya kurang dari 10 persennya. Jenis lemak yang harus dihindari adalah lemak jenuh, seperti pada mentega, gajih pada daging sapi, dan kulit ayam.

Kolesterol juga perlu dibatasi di bawah 300 mg. Perhatikan juga asupan asam lemak omega 3. Menurut parameter AKG, kebutuhan omega 3 lansia adalah sebesar 1,6 gram.

Vitamin dan Mineral

Vitamin merupakan fungsi vital dalam metabolisme tubuh, yang tidak dapat dihasilkan oleh tubuh, sedangkan mineral sendiri merupakan unsur pelengkap yang membantu dalam proses pertumbuhan dan perkembangan di dalam tubuh.

Contoh: sayur-sayuran, buah-buahan, air mineral, dll.

Kebutuhan gizi lansia maupun energi memang sangat penting tapi bukan hanya itu, lansia sebaiknya juga melakukan anjuran berikut ini:

  • Sebaiknya olah makanan dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang.
  • Mengurangi makanan yang digoreng.
  • Sesuaikan tekstur makanan dengan kemampuan. Jika sulit menelan, sebaiknya sajikan makanan dalam bentuk lunak.
  • Menentukan jadwal makan yang teratur. Contoh, sarapan jam 6 pagi, selingan jam 9 pagi, makan siang jam 12, makan selingan jam 3 sore, makan malam jam 6 malam, dan selingan jam 9 malam.
  • Batasi makanan yang manis-manis atau mengandung kadar gula tinggi.
  • Batasi makanan yang terlalu pedas.
  • Batasi minum kopi atau teh.
  • Batasi konsumsi makanan yang terlalu asin.

KEBUTUHAN AKAN PENAMBAH NAFSU MAKAN ATAU SUPLEMEN MAKANAN

Jika lansia tidak mau makan, sebaiknya dicari terlebih dahulu penyebabnya. Ada kemungkinan karena menderita sakit tertentu, sulit mengunyah dan menelan makanan, hingga stress. Hal ini dikarenakan penyebab (lansia tidak nafsu makan) yang berbeda akan membutuhkan penanganan yang berbeda pula.

Sebagai contoh, apabila lansia kesulitan mengunyah, disarankan untuk mempertimbangkan makanan dengan tekstur yang lunak ataupun mempertimbangkan untuk memberikan gigi palsu. Tidak melulu harus diberikan suplemen pelengkap makanan ataupun suplemen penambah nafsu makan. Apabila masih tersisa pilihan selain menambahkan suplemen, maka utamakanlah opsi tersebut pertama kali.

Pemberian suplemen penambah selera makan akan diberikan sesuai dengan kondisi lansia tersebut. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya defisiensi atau kekurangan suatu zat semakin parah.

Silakan hubungi kami untuk mendapatkan informasi lebih lanjut cara menjaga gizi dan nafsu makan seorang lansia serta cara-cara yang efisien untuk memberikan pendampingan kepada anggota keluarga lansia:

Yayasan Pendidikan Cipta Mulya Surabaya

Telp. : (031) 9954-3588

HP/WA. : 0817-7238-8889

Our Website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *